Home > Penelitian > PENGEMBANGAN KOMPETENSI SUMBER DAYA APARATUR

PENGEMBANGAN KOMPETENSI SUMBER DAYA APARATUR

RINGKASAN

CHOIRUL SALEH, Drs, MSi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang, Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Aparatur. Studi Tentang Pengembangan Kompetensi Personal Bagi Street Level Bureaucrats (SLB) Pada Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang. Promotor, Prof. Dr. H.M. Irfan Islamy, MPA, Co-Promotor, Prof. Dr. Susilo Zauhar, MS, Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS, 595 halaman + xvii

Sejalan dengan adanya keinginan pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan penerbitan paspor, serta international standard yang telah ditetapkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), agar Indonesia segera menerbitkan paspor kelas dunia (world class solution) berbasis ICT maka, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia, kecuali harus menerapkan biometric passport face recoqnition mandatory and automatic finger identification yang berfungsi sebagai opsi pelengkap dalam proses penerbitan e-passport book-nya. Oelh sebab itu Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang sebagai salah satu UPT dari Ditjen Keimigrasian, yang diberi mandat melaksanakan tugas tersebut harus melakukan pengembangan kompetensi personal bagi segenap aparatur atau SLB-nya.
Tujuan dari studi ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis secara komprehensif terhadap pelaksanaan program pengembangan kompetensi personal yang telah dilakukan oleh Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang bagi para SLB-nya yang ditugaskan pada program EPS-G2 untuk menerbitkan e-passport book tersebut.
Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode penenelitian kualitatif, dengan mengandalkan teknik wawancara, observasi dan metode dokumentasi sebagai alat pengumpulan data selama berada di lokasi penelitian. Sedangkan proses analisis datanya, menggunakan metode interactive dari Miles dan Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program pengembangan kompetensi personal yang telah dilakukan oleh Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang terhadap para SLB yang ditugaskan sebagai operator pada program EPS-G2 selama ini masih kurang tepat sasaran. Bahkan ada beberapa program pengembangan kompetensi personal yang tidak relevan dengan kebutuhan organisasi, sehingga hasilnya tidak dapat digunakan untuk meningkatkan work performance mereka. Faktor utama yang menyebabkan hal tersebut, karena pelaksanaan belum didasarkan pada personal competency identification secara lengkap dan matang, belum dimilikinya personal competency inventory yang valid, sehingga program pengembangannya belum tersusun secara terstruktur dan kontinyu.
Berdasarkan hasil studi ini, dapat disimpulkan bawa penyelenggaraan program pengembangan kompetensi personal terhadap para SLB yang ditugaskan sebagai pelaksana program EPS-G2 di Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang belum berjalan secara optimal dan kurang tepat sasaran serta kurang relevan. Akibatnya sebagian besar dari para SLB yang ditugaskan sebagai public servants dalam penerbitan paspor tersebut belum memiliki kemampuan yang optimal dalam mengaplikasikan program EPS-G2 yang merupakan piranti utama mereka dalam melaksanakan tugas tersebut.
Agar pelaksanaan program pengembangan tersebut dapat memperoleh hasil yang optimal dan tepat sasaran, beberapa langkah yang sebaiknya ditempuh oleh Kantor Imigrasi Kelas 1 Malang di antaranya adalah; pertama melakukan personal competency identification activities yang digunakan untuk menganalisis personal competency gaps and personal competency needs baik yang dibutuhkan oleh SLB-nya maupun organisasi. Kedua, menyusun perencanaan yang matang untuk dikoordinasikan dengan instansi vertikal yang berada di atasnya, Ketiga, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap progresivitas kompetensi personal dan kinerja para SLB-nya secara berkesinambungan.

Kata Kunci: kompetensi personal, pengembangan, street level bureaucrat.
SUMMARY

Choirul Saleh, Drs, MSi, Post Graduate Program University of Brawijaya Malang, The Competency Development of Civil Servant Human Resources. (The Study about Personal Competency Development to The Street Level Bureaucrats in Immigration Office Class 1 Malang. Supervisor, Prof. Dr. H.M. Irfan Islamy, MPA, Co-Supervisor, Prof. Dr. Soesilo Zauhar, MS, Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS, 595 pages + xvii

In line with the strong eagerness of the government to improve service quality in publishing (establishing) passport and fulfill international standard passport regulatory by International Civil Aviation Organization (ICAO) to publish (establish) ICT based world class passport, Indonesia has to apply biometric passport face recognition mandatory and automatic finger identification as the complementary option in publishing (establishing) the passport book. Immigration Office class 1 Malang as one of the technical service unit of Directorate General of Immigration whose duty is to apply agenda above has to improve personal competency of all apparatuses and also its street level bureaucrats.
The objectives of this study are to describe and to analyze comprehensively the application of personal competency development in Immigration Office Class 1 Malang to its street level bureaucrats in EPS-G2 program to publish (establish) the e-passport book.
This research employs qualitative method with interview, observation and documentation as the tools for collecting data during the time in the research area. Meanwhile, the data analysis applies interactive method from Miles and Huberman.
The result of the research shows that personal competency development for the street level bureaucrats especially for the operator of EPS-G2 program in Immigration office Class 1 Malang is not on target. Even, some programs are not relevant with the needs of organization, and consequently the result does not improve their working performance. The primary factor of this problem is due to the application of the program which is not based on the comprehensive and accurate personal competency identification and no valid personal identification inventory. Therefore, the development program has not been composed systematically and continuously.
Based on the result of this study, it can be concluded that the application of personal competency development program to the street level bureaucrats whose duty is tu apply EPS-G2 program in Immigration Office Class 1 Malang does not run optimally and is not effective, even relevant. Consequently, most of public servants responsible for EPS-G2 program operation can not apply the software.
In order to optimize and to make the program works on target, several ways can be utilized by the Immigration Office Class 1 Malang, such as; first, to do personal competency identification activities which is used to analyze personal competency gaps and personal competency needs for the street level bureaucrats as well as the organization; second, to arrange good planning and coordination with Vertical Institution in the upper level; third, to monitor and evaluate to the personal competency progressively and the performance of the street level bureaucrats continuously.

Categories: Penelitian Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
*